Pahamin Dulu Kirim laporan

KERANGKA: Saat Saya Hampir Tertipu Online

Ilustrasi: Pahamin Dulu.

 

Catatan redaksi: Ini adalah cerita ilustrasi. Tokoh "saya" dan detail kejadiannya rekaan, tetapi modus yang digambarkan nyata dan banyak dilaporkan masyarakat. Kami menuliskannya sebagai cerita agar tanda-tanda bahayanya lebih mudah dikenali.

 Jam di layar laptop menunjukkan pukul sebelas lewat. Kopi di samping saya sudah dingin, dan saya masih menyelesaikan laporan kantor yang harus dikirim besok pagi. Ponsel bergetar. Sebuah pesan WhatsApp masuk dari nomor yang tidak saya simpan.

"Selamat malam, Kak. Kami dari Customer Service. Pesanan Kakak hari ini terdeteksi terbayar dua kali karena gangguan sistem. Dana kelebihan akan kami kembalikan malam ini. Mohon konfirmasi melalui tautan berikut sebelum pukul 23.59 agar dana tidak hangus."

Saya memang memesan sepasang sepatu tadi siang. Foto profil pengirimnya memakai logo toko daring tempat saya berbelanja. Nama akunnya pun tertulis rapi sebagai akun bisnis, lengkap dengan jam layanan dan alamat situs.

Kenapa awalnya terasa meyakinkan

Semuanya terasa pas. Pesanan itu memang ada. Jumlah uang yang disebut sama persis dengan harga sepatu yang saya bayar. Bahasanya sopan, tanpa salah ketik. Batas waktu "sebelum pukul 23.59" membuat saya merasa harus bergerak cepat. Siapa yang mau uangnya hangus hanya karena terlambat beberapa menit?

Saya mengetuk tautan itu. Halaman yang terbuka mirip sekali dengan tampilan toko daring yang biasa saya pakai: warna yang sama, tombol yang sama. Saya diminta memasukkan nomor HP dan nama bank untuk "tujuan pengembalian dana". Saya isi.

Detik-detik hampir tertipu

Beberapa detik kemudian, sebuah SMS masuk berisi enam digit angka. Hampir bersamaan, pesan baru datang di WhatsApp:

"Kode verifikasi pengembalian dana sudah kami kirim, Kak. Mohon masukkan kode tersebut di halaman tadi agar proses selesai."

Jempol saya sudah berada di atas layar. Tinggal mengetik enam angka, lalu menekan tombol "Konfirmasi". Pikiran saya sudah setengah di laporan kantor, setengah lagi ingin urusan ini cepat beres.

Lalu mata saya menangkap satu baris di SMS itu, kalimat yang selama ini selalu saya lewati begitu saja: "JANGAN BERIKAN kode ini kepada siapa pun, termasuk pihak yang mengaku petugas."

Jempol saya berhenti.

Yang membuat saya berhenti

Saya membaca ulang SMS itu pelan-pelan. Kode tersebut ternyata bukan kode "pengembalian dana". Itu kode untuk menyetujui transaksi dari rekening saya. Kalau saya memasukkannya, saya bukan menerima uang. Saya justru mengizinkan uang keluar.

Setelah itu, tanda-tanda lain mulai terlihat jelas:

•     Alamat tautannya janggal. Nama situsnya mirip, tetapi ada tambahan kata dan tanda hubung yang tidak pernah dipakai toko aslinya.

•     Pengembalian dana tidak pernah perlu kode OTP. Saat menerima uang, kita tidak perlu memberikan kode apa pun.

•     Toko resmi tidak menghubungi lewat nomor pribadi. Pemberitahuan resmi muncul di aplikasi atau email, bukan dari nomor WhatsApp acak.

•     Desakan waktu. "Sebelum pukul 23.59 atau hangus" adalah cara agar korban tidak sempat berpikir.

Saya menutup halaman itu dan membuka aplikasi toko daring secara langsung, bukan lewat tautan. Status pesanan saya normal. Tidak ada keterangan pembayaran ganda, apalagi pengembalian dana. Saya lalu menelepon call center bank di nomor yang tertera di balik kartu ATM, menceritakan bahwa saya sempat mengisi data di situs palsu, dan meminta saran. Petugas memastikan tidak ada transaksi mencurigakan dan menyarankan saya mengganti PIN aplikasi bank malam itu juga.

Pesan WhatsApp dari "customer service" itu masih masuk dua kali lagi, kali ini dengan nada mendesak. Saya tidak membalas, memblokir nomornya, dan melaporkannya.

Pelajaran untuk pembaca

Malam itu saya selamat bukan karena pintar, tetapi karena kebetulan membaca satu baris kalimat. Agar Anda tidak perlu mengandalkan kebetulan, ingat hal-hal berikut:

•     Berhenti sejenak bila diminta bertindak cepat. Penipu selalu membuat kita terburu-buru.

•     Verifikasi lewat jalur lain. Buka aplikasi resminya sendiri, atau telepon nomor resmi yang tertera di kartu atau situs resmi.

•     Jangan pernah memberikan kode OTP, PIN, atau kata sandi kepada siapa pun, termasuk yang mengaku petugas.

•     Baca isi SMS kode verifikasi sampai habis. Di sana biasanya tertulis kode itu untuk apa.

•     Jangan memasang file berakhiran .apk yang dikirim lewat chat.

•     Bila sudah terlanjur mentransfer, segera hubungi bank dan laporkan ke Indonesia Anti-Scam Centre di iasc.ojk.go.id.

Penutup

Sejak malam itu, saya punya satu kebiasaan baru: setiap kali ada pesan yang membuat jantung berdebar dan meminta saya bertindak "sekarang juga", saya letakkan dulu ponselnya. Saya tarik napas, lalu bertanya pada diri sendiri: apa benar begitu?

Pahamin dulu, baru bertindak.

Catatan: Cerita ilustrasi oleh Redaksi Pahamin Dulu. Tokoh dan kejadian rekaan; modus yang digambarkan mengacu pada pola penipuan yang banyak dilaporkan masyarakat.


Sumber: OJK, Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) — https://iasc.ojk.go.id